Direktur teknis Arsenal, Edu, menyampaikan penjelasannya terkait kebijakan transfer pemain klub. Hal ini disampaikannya di tengah kondisi yang sulit bagi timnya tersebut dalam menjalani musim. Seperti yang diketahui Arsenal tampak tidak terlalu aktif dalam mendatangkan pemain-pemain baru. Hal ini cukup berbeda dengan langkah tim lain yang bisa dibilang agresif.
Di Balik Dinamika Pemain Arsenal
Direktur teknis Arsenal, Edu, baru-baru ini menyampaikan beberapa hal terkait tekanan yang diterimanya bersama pelatih Arsenal, Mikel Arteta. Keduanya diketahui kerap mendapatkan kritik setelah Arsenal tampak bermain dengan kurang optimal di awal musim ini. Kebijakan transfer pemain Arsenal dari keduanya menjadi pusat dari kritik y ang diberikan kepada pihak Arsenal. Tak sedikit pihak yang bahkan beranggapan para pemain yang didatangkan pada musim ini adalah salah satu keputusan buruk yang dikeluarkan oleh keduanya.
Berdasarkan catatan link alternatif Fun88, Arsenal diketahui mengeluarkan biaya hingga 157 juta poundstelring di bursa transfer musim ini. Biaya ini dikeluarkan tim asal Inggris tersebut untu mendatangkan 6 pemain baru.
Sayangnya, meski sejumlah dana besar telah dikeluarkan pihak klub, Arsenal nyatanya harus menelan beberapa kekalahan pahit. Setidaknya 3 laga pembuka Arsenal berakhir dengan kodnisi mandul gol.
Kekalahan Pemain Arsenal
Kondisi tragis ini tak pelak mengundang perhatian banyak pihak. Sang pelatih sendiri harus menjadi saksi tatkala timnya harus menelan kekalahan telak 0-5 kala berhadapan dengan Manchester City pada pekan lalu. Hal ini tentunya menambah panjang daftar tekanan dan stres yang harus ia tanggung.
Tak hanya itu, berbagai pihak pun mulai melancarkan kritik kepada Edu. Sang direktur teknis Arsenal tersebut dianggap kurang bekerja dengan baik kala merekrut pemain baru. Terkait hal ini, sang direktur teknis Arsenal tersebut pun mengeluarkan pernyataan pribadinya.
Butuh Pengelolaan yang Lebih Baik
Belakangan ini, sebagai bagian dari tim manajemen pemain Arsenal, dirinya melakukan wawancara dengan media olahraga setempat. Dalam wawancara tersebut, ia berbicara perihal beberapa aspek terkait bursa transfer musim panas lalu.
Sosok berusia 43 tahun tersebut menjelaskan secara panjang lebar di balik bisnis musim panas Arsenal. Ia pun mengetahui banyaknya kritik yang diarahkan kepadanya perihal cara klub menghabiskan dana mereka. Tak sedikit bahkan yang mempertanyakan langkah Arsenal yang dianggap terlalu fokus pada belanja pemain bukan mengoptimalkan pemain yang sudah mereka miliki.
Terkait hal ini, Edu berkata bahwa tahun lalu, Arsenal harus menderita akibat kehilangan banyak pemain. Momen-momen tersebut menjadi pelajaran besar bagi pihak tim karena saat itu tidak ada opsi pemain cadangan yang cukup dan memiliki kualitas yang baik sebagai pengganti.
Oleh karena itu, ia dan pihak manajemen tim percaya bahwa mereka memerlukan sebuah skuad untuk memenangkan berbagia laga ke depan. Mereka membutuhkan sebuah skuad untuk selalu siap berlaga di setiap saat, termasuk di penghujung musim. Hal ini sangat penting karena bisa membantu tim, sehingga mereka tidak boleh hanya berfokus pada 11 pemain utama.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Arsenal membutuhkan fondasi pemain yang kuat. Mereka membutuhkan pemain dan pemain lain yang berfungsi sebagai cadangan manakala salah satu adalah beberapa pemain utama tidak dapat menjalankan tugas mereka.
Misalkan, di lini pemain tengah, Arsenal memiliki sosok Granit Xhaka dan Thomas Parley. Keduanya bisa menjalankan fungsi saling membantu satu sama lain. Jadi, bagi dirinya dan sang pelatih, tidak masuk akal untuk mendatangkan pemain lain di posisi tersebut. Alasan inilah yang kemudian mendorong mereka untuk lebih memilih mendatangkan Sambi Lokonga yang berperan sebagai pendukung keduanya.
Sementara di lini serang, Arsenal sudah dilengkapi dengan Gabriel Martinelli, Nicolas Pepe, Bukayo Saka, Pierre-Emerick Aubameyang, dan Alexandre Lacazette. Secara teknis, para pemain ini memiliki kemampuan bermain yang sangat baik.
Sayangnya, kondisi saat ini menempatkan bagian lini belakang tengah Arsenal cukup rawan. Hal ini karena hanya ada satu pemain yang bisa menempati posisi tersebut. Hal inilah yang kemudian mendorong pihak manajemen untuk lebih mengutamakan pengisian posisi tersebut. Tak heran jika mereka bahkan rela mengeluarkan banyak dana untuk memastikan pos tersebut diisi dengan pemain yang tepat.